YUK INTIP PENDIDIKAN KITA
KOLABORASI STAKEHOLDERS PENDIDIKAN
Sudah menjadi rahasia umum bila
kurikulum yang ada di Indonesia ini sering mengalami pergantian. Mulai dari
kurikulum berbasis kompetensi, sampai dengan kurikulum tingkat satuan
pendidikan maupun kurikulum yang lainnya. Dari sekian banyak kurikulum yang
ada, memang telah melahirkan berbagai prestasi yang diukir oleh anak bangsa,
mulai dari tingkat regional sampai internasional, namun dari semua itu masih
memiliki sejumlah kekurangan—kekurangan. Hal itu terbukti dengan tertinggalnya
pendidikan kita dengan negara-negara lain, termasuk dengan negara tetangga dan
beberapa negara ASEAN lainnya. Hal itu tentunya menunjukkan adanya sesuatu yang
kurang komplet dari kurikulum yang selama ini sudah ada. Jika kita melihat
lebih jauh lagi tentang kurikulum yang selama ini sudah ada, kesemuanya itu
hanya lebih menekankan pada kecerdasan peserta didik, tanpa menekankan pada aspek
moral dan menjunjung tinggi nilai-nilai kehidupan. Hal ini terbukti dengan
fenomena yang beberapa waktu ini mengguncangkan dunia pendidikan tentang kasus
tawuran, kekerasan, sampai pergaulan bebas yang melibatkan para peserta didik
kita.
Seiring dengan digonta-gantinya
kurikulum di negara ini, maka akan lebih sering pula para stakeholders pendidikan, seperti guru misalnya untuk menyesuaikan
diri lagi dengan kurikulum yang baru. Sedangkan kurikulum yang lama pun belum
semua guru mampu untuk memahami dan mengimplementasikannya dengan baik. Hal ini
tentunya menimbulkan pertanyaan, apakah selama ini memang yang salah itu
kurikulumnya atau yang mengimplementasikannya dilapangan yang belum bisa. Hal ini
terkait dengan kompetensi yang dimiliki oleh guru, karena kita tidak bisa
mensejajarkan kemampuan satu guru dengan yang lainnya. Guru sebagai garda
terdepan dalam sebuah pendidikan memang mempunyai peranan yang sangat vital
bagi perkembangan pendidikan secara global. Jika seorang guru belum memahami
secara benar kurikulum yang ada, maka akan sulit tentunya jika kita
mengharapkan pembelajaran yang berkualitas dan menciptakan sumber daya yang
unggul. Hal serupa juga berlaku jika di dalam suatu kurikulum memang adanya
sesuatu kekurangan yang mendasar yang membuat pembelajaran menjadi kurang,
seperti kurangnya aspek untuk menanamkan nilai-nilai moral bangsa. Hal ini
tentunya bukan untuk mencari kambing hitam dari masalah yang mengakar ini. Kita
juga tidak serta merta menyalahkan guru atau kurikulum atau apapun itu dalam
kondisi yang terjadi sekarang. Yang perlu diperhatikan adalah membangun suatu
kurikulum yang tangguh dan tidak hanya mementingkan kecerdasan saja, melainkan
juga mampu untuk memberikan nilai-nilai moral seperti karakter diri yang
tangguh, kuat, bertanggung jawab dan berjiwa pemimpin. Hal itu dibarengai
dengan lebih sering memberikan pelatihan kepada guru agar mampu memahami dan
menerapkan kurikulum yang berlaku dengan baik agar terjadi keselarasan dan
kesinambungan dengan aspek-aspek yang lain.
Jika melihat keseriusan dari
pemerintah untuk merubah kurikulum yang sudah ada, maka tentunya yang perlu
diperhatikan adalah merubah pondasinya dan menggantikannya dengan lebih kokoh
dan tangguh. Perubahan harus dilakukan dari dasar dan dimulai sedini mungkin. Hal
ini akan membuat kesinambungan kedepannya. Penambahan nilai-nilai moral serta
pendidikan yang berkarakter dalam kurikulum memang mutlak harus dilakukan
mengingat kejadian-kejadian yang terjadi belakangan ini. Koordinasi antar stakeholders pendidikan seperti guru,
kepala sekolah, siswa, pihak keluarga, masyarakat dan yang lainnya perlu
ditingkatkan untuk mencapai kondisi dan keadaan yang kondusif serta menciptakan
pembelajaran yang berkualitas. Karena untuk menciptakan pendidikan yang baik
dan berkualitas bukan hanya sekedar mengganti kurikulum yang lama dengan yang
baru. Namun semua itu perlu adanya kombinasi dan kolaborasi semua aspek untuk
mencapai suatu tujuan pendidikan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar