Jumat, 07 Desember 2012

YUK INTIP PENDIDIKAN KITA

KOLABORASI STAKEHOLDERS PENDIDIKAN
            Sudah menjadi rahasia umum bila kurikulum yang ada di Indonesia ini sering mengalami pergantian. Mulai dari kurikulum berbasis kompetensi, sampai dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan maupun kurikulum yang lainnya. Dari sekian banyak kurikulum yang ada, memang telah melahirkan berbagai prestasi yang diukir oleh anak bangsa, mulai dari tingkat regional sampai internasional, namun dari semua itu masih memiliki sejumlah kekurangan—kekurangan. Hal itu terbukti dengan tertinggalnya pendidikan kita dengan negara-negara lain, termasuk dengan negara tetangga dan beberapa negara ASEAN lainnya. Hal itu tentunya menunjukkan adanya sesuatu yang kurang komplet dari kurikulum yang selama ini sudah ada. Jika kita melihat lebih jauh lagi tentang kurikulum yang selama ini sudah ada, kesemuanya itu hanya lebih menekankan pada kecerdasan peserta didik, tanpa menekankan pada aspek moral dan menjunjung tinggi nilai-nilai kehidupan. Hal ini terbukti dengan fenomena yang beberapa waktu ini mengguncangkan dunia pendidikan tentang kasus tawuran, kekerasan, sampai pergaulan bebas yang melibatkan para peserta didik kita.
            Seiring dengan digonta-gantinya kurikulum di negara ini, maka akan lebih sering pula para stakeholders pendidikan, seperti guru misalnya untuk menyesuaikan diri lagi dengan kurikulum yang baru. Sedangkan kurikulum yang lama pun belum semua guru mampu untuk memahami dan mengimplementasikannya dengan baik. Hal ini tentunya menimbulkan pertanyaan, apakah selama ini memang yang salah itu kurikulumnya atau yang mengimplementasikannya dilapangan yang belum bisa. Hal ini terkait dengan kompetensi yang dimiliki oleh guru, karena kita tidak bisa mensejajarkan kemampuan satu guru dengan yang lainnya. Guru sebagai garda terdepan dalam sebuah pendidikan memang mempunyai peranan yang sangat vital bagi perkembangan pendidikan secara global. Jika seorang guru belum memahami secara benar kurikulum yang ada, maka akan sulit tentunya jika kita mengharapkan pembelajaran yang berkualitas dan menciptakan sumber daya yang unggul. Hal serupa juga berlaku jika di dalam suatu kurikulum memang adanya sesuatu kekurangan yang mendasar yang membuat pembelajaran menjadi kurang, seperti kurangnya aspek untuk menanamkan nilai-nilai moral bangsa. Hal ini tentunya bukan untuk mencari kambing hitam dari masalah yang mengakar ini. Kita juga tidak serta merta menyalahkan guru atau kurikulum atau apapun itu dalam kondisi yang terjadi sekarang. Yang perlu diperhatikan adalah membangun suatu kurikulum yang tangguh dan tidak hanya mementingkan kecerdasan saja, melainkan juga mampu untuk memberikan nilai-nilai moral seperti karakter diri yang tangguh, kuat, bertanggung jawab dan berjiwa pemimpin. Hal itu dibarengai dengan lebih sering memberikan pelatihan kepada guru agar mampu memahami dan menerapkan kurikulum yang berlaku dengan baik agar terjadi keselarasan dan kesinambungan dengan aspek-aspek yang lain.
            Jika melihat keseriusan dari pemerintah untuk merubah kurikulum yang sudah ada, maka tentunya yang perlu diperhatikan adalah merubah pondasinya dan menggantikannya dengan lebih kokoh dan tangguh. Perubahan harus dilakukan dari dasar dan dimulai sedini mungkin. Hal ini akan membuat kesinambungan kedepannya. Penambahan nilai-nilai moral serta pendidikan yang berkarakter dalam kurikulum memang mutlak harus dilakukan mengingat kejadian-kejadian yang terjadi belakangan ini. Koordinasi antar stakeholders pendidikan seperti guru, kepala sekolah, siswa, pihak keluarga, masyarakat dan yang lainnya perlu ditingkatkan untuk mencapai kondisi dan keadaan yang kondusif serta menciptakan pembelajaran yang berkualitas. Karena untuk menciptakan pendidikan yang baik dan berkualitas bukan hanya sekedar mengganti kurikulum yang lama dengan yang baru. Namun semua itu perlu adanya kombinasi dan kolaborasi semua aspek untuk mencapai suatu tujuan pendidikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar