Jumat, 31 Agustus 2012

dibalik tirai


DIBALIK TIRAI
Tangan tua itu masih kuat dan terampil untuk sekedar menata dan mengerjakan semua urusan rumah dari depan hingga belakang sampai benar-benar beres. Semua itu dilakukannya dengan senang hati tanpa sedikitpun keluh kesah yang terucap dalam jiwa renta itu. Meskipun tak seterampil lima atau sepuluh tahun lalu, mbok sumi mengerjakan pekerjaannya dengan penuh dedikasi. Tak hanya itu, mbok Sumi juga masih senantiasa menyajikan masakan istimewa yang selalu memikat penghuni rumah keluarga pak Dibyo untuk selalu menyempatkan makan dirumah, ditengah kesibukan pekerjaannya diluar sana. Hal itulah yang membuat keluarga pak Dibyo masih terus mempertahankan mbok Sumi yang sudah tidak muda lagi untuk bekerja di keluarga itu. Selain karena memang sudah lama ikut dengan keluarga pak Dibyo, mbok Sumi juga selalu memperlihatkan kerajinannya dalam bekerja ditengah tubuhnya yang terus-menerus digerogoti usia dan penyakitnya dua tahun belakangan ini.
Ajakan untuk beristirahat total dalam penyembuhan penyakitnya selalu datang dari keluarga pak Dibyo dan juga dari Anis, cucu semata wayang mbok Sumi yang dibesarkannya sendiri semenjak kecil. Kala itu, sekitar 20 tahun yang lalu anak dan menantu mbok Sumi harus meninggalkan Anis kecil yang baru berusia dua tahun akibat kecelakaan mobil ketika dalam perjalanan pulang kerja. Almarhum ayah dan ibu Anis memang waktu itu berada dalam satu kantor yang sama, sehingga perjalanan berangkat dan pulang kantor,mendiang kedua orang tua selalu bersama-sama sampai peristiwa naas itu terajadi. Pada saat itulah, mbok Sumi yang menjadi satu-satunya keluarga yang masih dimiliki Anis setelah kedua orang tuanya tiada,  mengharuskan mbok Sumi untuk mengasuh dan membesarkannya hingga tumbuh menjadi wanita dewasa dan cantik hingga seperti sekarang ini.
Dengan ketrampilan yang hanya sebatas mengolah beberapa racikan bumbu rempah dengan dikombinasikan insting rasa dalam menyampurkan aneka bahan menjadi suatu hidangan, maka yang hanya bisa dilakukan mbok Sumi dalam mencukupi kelangsungan hidupnya dan cucu satu-satunya adalah mengabdikan hidupnya menjadi seorang pembantu kepada keluarga-keluarga yang mempercayai kemampuannya, dan yang terakhir dan terlama menjadi tempat pengabdian mbok Sumi adalah keluarga pak Dibyo. Sudah sekitar dua belas tahun mbok Sumi menjadi bagian dari keluarga pak Dibyo hingga sekarang. Sebegitu lamanya hingga mbok Sumi sudah dianggap seperti ibu oleh pak Dibyo dan Nita,istri pak Dibyo.
Dari hasil pengabdiannya menjadi pembantu rumah tangga pula ia berhasil menyekolahkan Anis hingga menjadi seorang mahasiswi tingkat akhir dan sebentar lagi akan lulus menadi sarjana. Begitu besar pengorbanan mbok Sumi bagi cucu kesayangannya itu hingga seluruh hidupnya dia curahkan sepenuhnya kepada cucunya agar menjadi orang yang sukses nantinya. Bagi Anis sendiri, mbok sumi bukan hanya sebagai neneknya semata, melainkan menjadi seorang ibu, ayah, teman, tempat mengadu, dan segalanya, sebegitu besarnya kasih Anis kepada neneknya itu. Tak berlebihan memang karena memang dari kecil Anis hanya mempunyai mbok Sumi seorang.
Semarang, Juli 2003
Pagi itu, masih menunjukan pukul 4.30, ketika semua orang masih berada dalam mahkota mimpinya, mbok Sumi sudah berkutat dengan segala rutinitasnya sebagai seorang “pelayan” yang harus siap sedia untuk sekedar menyiapkan sarapan dan keperluan lainnya untuk tuan-tuannya. Ditengah kesibukannya itu, mbok Sumi dikejutkan dengan suara yang datang dari arah pintu dapur yang membelakanginya. “kok nggak bangunin aku eyang?, khan anis bisa bantuin eyang nyiapin semuanya” sergah anis dengan mata yang masih merah dan sayu karena baru bangun tidur. “udah dibangunin tadi cah ayu, tapi kamunya gag bangun, capek ya semalem nglembur?” pinta mbok Sumi. “hehehehe,,napa nggeh eyang? Maap ya yang, anis semalem tidur larut karena ada tugas kampus yang harus diselesaiin hari ini juga”. “Ora popo nduk, sekarang kamu solat subuh dulu sana, nanti bantuin eyang nyiapin baju sekolahnya den Romi ya?”. “iya eyang” seru Anis dengan segala hormatnya kepada neneknya yang sudah cukup berumur tapi masih bersemangat dalam menghadapi nasib dan keadaan. Bahkan bukan hanya sekedar menghadapi nasib, terkadang nasib dan keadaan harus ditantang oleh mbok Sumi dengan maksud agar kita, jiwa-jiwa manusia yang cenderung lemah dalam menghadapi cobaan hidup yang berat bisa jauh lebih kuat jika dilandasi dengan keteguhan dan keikhlasan untuk memberikan yang terbaik buat orang yang dicintainya. Dan itu yang ada di dalam jiwa mbok Sumi, seluruh hidupnya dia curahkan untuk memberikan yang terbaik bagi Anisa Dewi Rahayu, cucunya.
to be continue..............

Tidak ada komentar:

Posting Komentar