DIBALIK TIRAI
Tangan tua itu masih kuat dan terampil untuk sekedar
menata dan mengerjakan semua urusan rumah dari depan hingga belakang sampai
benar-benar beres. Semua itu dilakukannya dengan senang hati tanpa sedikitpun
keluh kesah yang terucap dalam jiwa renta itu. Meskipun tak seterampil lima
atau sepuluh tahun lalu, mbok sumi mengerjakan pekerjaannya dengan penuh
dedikasi. Tak hanya itu, mbok Sumi juga masih senantiasa menyajikan masakan
istimewa yang selalu memikat penghuni rumah keluarga pak Dibyo untuk selalu
menyempatkan makan dirumah, ditengah kesibukan pekerjaannya diluar sana. Hal
itulah yang membuat keluarga pak Dibyo masih terus mempertahankan mbok Sumi
yang sudah tidak muda lagi untuk bekerja di keluarga itu. Selain karena memang
sudah lama ikut dengan keluarga pak Dibyo, mbok Sumi juga selalu memperlihatkan
kerajinannya dalam bekerja ditengah tubuhnya yang terus-menerus digerogoti usia
dan penyakitnya dua tahun belakangan ini.
Ajakan untuk beristirahat total dalam penyembuhan
penyakitnya selalu datang dari keluarga pak Dibyo dan juga dari Anis, cucu
semata wayang mbok Sumi yang dibesarkannya sendiri semenjak kecil. Kala itu,
sekitar 20 tahun yang lalu anak dan menantu mbok Sumi harus meninggalkan Anis
kecil yang baru berusia dua tahun akibat kecelakaan mobil ketika dalam
perjalanan pulang kerja. Almarhum ayah dan ibu Anis memang waktu itu berada
dalam satu kantor yang sama, sehingga perjalanan berangkat dan pulang kantor,mendiang
kedua orang tua selalu bersama-sama sampai peristiwa naas itu terajadi. Pada
saat itulah, mbok Sumi yang menjadi satu-satunya keluarga yang masih dimiliki
Anis setelah kedua orang tuanya tiada, mengharuskan mbok Sumi untuk mengasuh dan
membesarkannya hingga tumbuh menjadi wanita dewasa dan cantik hingga seperti
sekarang ini.